Perbedaan Orang Tua dan Juragan Hubungan Antara Orang Tua dengan Anak dan Juragan Kepada Anak Buah Pada Kasus Tertentu Ternyata Sama

kasih sayang orang tuaTulisan ini mencoba  mendiskripsikan ulang peran orang tua terhadap anaknya. Terutama soal sikap keseharian baik itu komunikasi, tindakan atau berbagai hal yang terjadi dalam keseharian hubungan antara orang tua dengan anak.

Sikap orang tua terhadap anaknya umumnya tumbuh dari kasih sayang,  empati yang mendalam dan hubungan darah daging yang sulit dipisahkan. Hubungan itu terus berlanjut meskipun dari salah satunya sudah meninggal dunia.

Sementara hubungan juragan ke anak buah kalaupun ada kasih sayang itu didasari kepentingan atau tujuannya supaya tercapai. Lebih tepatnya hubungan antara atasaan dan bawahan, sulit dicapai kesetaraan. Hubungannya murni komensalisme yang kadang nyerempet-nyerempet parasitisme.

Kalau kita lihat sekilas dari judul tulisan memang kelihatan sekali perbedaanya. Tetapi dalam sikap sehari-hari kadang orang tua bisa berprilaku seperti  juragan terhadap anak-anaknya, bahkan lebih kasar. Apakah kita termasuk bagian dari orang tua yang bersikap seperti  juragan?

orang tua tau juragan

Untuk lebih jelasnya mari kita simak apa saja yang bisa diidentifikasi sebagai sikap yang beda antara orang tua dan juragan.

6 Hal yang Membedakan Orang Tua dengan Juragan

  1. Orang tua care, juragan fair
  2. Orang tua suka terhadap proses, juragan tidak suka proses inginnya hasil
  3. Orang tua ingin anaknya berprestasi, juragan ingin anak buahnya melipatgandakan produksi/keuntungan
  4. Orang tua peduli dan aktif, juragan peduli tetapi pasif
  5. Orang tua sangat peduli terhadap kesehatan, juragan peduli ketika ada aturan/menerapkan aturan
  6. Orang tua akan membimbing dan menanyakan letak kesulitan anaknya ketika terjadi masalah atau tidak sukses melakukan sesuatu. Juragan akan memarahi anak buahnya tanpa peduli kesulitan dan persaingan dilapangan

Sikap orang tua kadang tidak jarang memperlakukan anaknya seperti juragan kepada anak buahnya. Tempramen, berkata-kata kotor, menghukum dan membatasi hak-haknya.

amarah juragan

Dalam kasus tertentu fenomena mempekerjakan anak, memukul anak dan memarahi anaknya sampai anak tidak kerasan dirumah sering kita jumpai akhir-akhir ini. Fenomena memutus/memangkas hak-hak anak ini tentunya bertentangan dengan hukum dan konvensi internasional.

Kesulitan ekonomi dan susahnya mencari pekerjaan bagi orang tua terkadang membuat pikiran jadi sempit dan gelap mata. Anak disuruhnya mengemis, jadi pemulung, ngamen di perempatan jalan dan kerja kasar lainnya.

Perlindungan terhadap kekerasan fisik, seksual dan psikis yang setiap saat mengancam tidak menjadi peduli bagi orang tuanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu, yaitu dapat uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Nah, kalau kejadiananya sudah begini terus siapa yang salah?

Menurut pendapat penulis yang patut disalahkan jika ada keluarga yang karena kesulitan ekonomi terus mempekerjakan anaknya adalah saudara/keluarga kedua orang tua, tetangga terdekat dan pemerintah (negara).

3 Orang atau Instistusi Yang Bertanggungjawab Terhadap Anak Terlantar atau Keluarga Miskin

  1. Saudara/family dari kedua orang tuanya.

Hal ini merujuk pada keutamaan shodaqoh. Sebagaimana sabda Nabi yang kurang lebih berbunyi begini: “bersedakahlah pada orang-orang yang membutuhkan, tatapi dahulukan kepada keluarga atau saudara yang tidak mampu (miskin) karena itu akan menutupi aibmu”

2. Tetangga terdekat.

Sebagai tetangga terdekat dari keluarga tidak mampu/miskin memiliki tanggungjawab terhadap keluarga tersebut. Ancaman Allah secara tegas dinyatakan dalam surat Al Ma’un ayat 1 sampai 3. Terjemahan dari ayat 1-3 tersebut kurang lebih begini: Siapa pendusta agama itu? Dialah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Jadi kalau kita membiarkan ada keluarga miskin yang setiap hari kesulitan untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan makannya berarti kita dikategorikan pendusta agama

3. Pemerintah (Negara)

Sebagaimana UUD Negara Republik Indonesia menjamin setiap warga negaranya untuk hidup aman dan sejahtera.

Amanat UUD “bahwa orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”.

anak bekerjaNah kalau negera tidak melakukan itu sementara pejabatnya korup tetap bisa tenang dan bangga maka bala/azab akan melanda negeri ini.

Umat-umat terdahulu mengalami kehancuran dan hilang ditelan bumi sebagaimana cerita-cerita dalam Al Qur’an sekiranya cukup menjadi pengingat dan pelajaran.

Semoga kita bukan tergolong orang-orang melampaui batas. Amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *